Tampilkan postingan dengan label Islamic Rubric. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic Rubric. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2016

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

Pernahkah hati kita merasa gelisah? tidak bisa tenang dalam menghadapi permasalahan? bahkan tidak bisa fokus dan khusuk dalam melaksanakan tanggungjawab kita sebagai mahluk, untuk beribadah kepadaNya?
Semua orang pasti pernah meraskan hal itu. Akan tetapi taukah kita bahwasanya hal yang kita rasakan tersebut merupakan sebuah akumulasi hasil dari hal-hal yang pernah kita lakukan yang bertentangan dengan kodrat kita sebagai manusia. Seperti sebuah hukum alam yang menyebutkan bahwa semua kejadian pasti ada sebab yang menyertainya. Hal ini terkadang tidak begitu kita perhatikan. Kita terlalu sibuk dengan apa yang kita kejar, tanpa menyadari bahwa didalam hati kita terdapat hijab yang menutupinya akibat dari perbuatan-perbuatan kita yang menyalahi kodrat sebagai manusia yang seharusnya bisa menjaga Hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan Hablum minannash (hubungan dengan sesama mahluk).
Sadarkah diri kita bahwasanya semua hal yang kita lakukan pasti akan ada balasannya? Balasan baik kah? Balasan buruk kah?
Seharusnya inilah poin terpenting dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Bisa jadi perasaan tidak tenang dan perasaan gelisah yang muncul dalam diri kita merupakan hukuman yang memang diberikan kepada kita olehNya?
Semoga kisah berikut ini menjadi bahan evaluasi diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Seorang murid mengadu kepada gurunya:
"Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita".


Sang Guru menjawab dengan tenang:
"Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa. Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: *Sedikitnya taufiq* (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan".


Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari *"kekerasan hatinya dan kematian hatinya"*.
Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah *mencabut darimu rasa bahagia dan senang* dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di harapannya..? Sadarkah engkau *tidak diberikan rasa khusyu'* dalam shalat..? Sadarkah engkau, bahwa beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur'an, padahal engkau mengetahui firman Allah:


_"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah"_.


Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur'an, seakan engkau tidak mendengarnya...
Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang...
Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..??
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..??? 
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..???


Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo'a kepadanya..???
Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..???
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..???
Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..???
Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..???
Semua *bentuk pembiaran* ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya...
Waspadalah wahai sahabatku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban.
Karena *hukuman yang paling ringan* dari Allah terhadap hambaNya ialah:
*"Hukuman yang terasa"* pada harta, atau anak, atau kesehatan.


Sesungguhnya *hukuman terberat* ialah: _*"Hukuman yang tidak terasa"*_ pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa._
Karena itu wahai sahabat2ku, *Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu...*




(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-'Aidan di Masjidil Haram)

Rabu, 22 Mei 2013

Three Characteristics of human that Allah love



Keutamaan orang-orang yang sabar, rendah hati, belas kasih, penyayang, pemaaf. Ini tentu karena jiwa besar, itulah akhlak yang mulia, buah dari keimanannya kepada Allah dan keimanannya kepada hari akherat. Sebenarnya yang mudah membuat marah itu adalah karena lemah iman, sehingga mudah diprofokasi oleh setan sehingga lahir sifat-sifat buruk. Kalo imannya kuat, ia beriman kepada Allah, beriman kepada janji Allah, beriman kepada hari ahir, semuanya pasti dibalas oleh Allah. Kebaikan dibalas kebaikan begitu juga sebaliknya. Dia akan selalu mengatur (manage) hatinya, untuk tetap sabar dijalan Allah. Maka tidak heran berhamburan pujian untuk hamba ini. Terpuji karena teruji.
Seperti Nabi Muhammad SAW, beliau terpuji karena teruji, menjadi khotamul ambiya’i wal mursalin (penutup para nabi) dan menjadi uswatun hasanah (teladan yang baik) tidaklah mudah. Tetapi karena teruji menghadapi kaum kafir dan menyebarkan agama Islam, dan semua yang telah dilalui beliau, telah membuatnya dimuliakan oleh Allah SWT.
Ada 3 rangking seorang hamba yang dipuji oleh Allah SWT dalam surah Ali- Imron yang merupakan rangking orang-orang bertaqwa, yaitu:
1.       Alkadimina minal ghoid (orang yang bisa menahan marah saat bisa menumpahkan marahnya)
Bisa kita bayangkan betapa hebatnya hamba ini, apakah kita bisa mencapai tingkat ini? Sangat sulit sekali
contoh: saat ada satu nyamuk menggigit kita, lalu kita melihatnya, apakah kita tahan untuk tidak membunuhnya? Atau di saat kita sedang macet di jalan lalu pada saat giliran kita, ada orang yang memotong antrian kita, kita bisa marah tetapi kita bisa menahannya.
Orang yang disebut jagoan itu bukan orang yang bisa seenaknya sendiri mengumbar nafsunya, bukan juga orang yang bisa menghajar orang seenaknya, tetapi orang yang bsia menahan dirinya, menahan nafsu marahnya disaat dia bisa marah.
Ada suatu cerita Rosulullah SAW ketika menyuapi seorang nenek yahudi yang terus menghina Rosullullah SAW, betapa bencinya nenek itu dengan Nabi Muhammad SAW, tetapi Rosul terus menyuapinya, dan nenek itu tuna netra (buta)tidak bisa melihat, bahwa yang memberi makan adalah Rosullullah SAW

2.       Al afiina aninnaas (orang yang bisa menahan marah dan juga bisa memaafkan)
Kebanyakan orang apabila telah sampai pada tahap menahan marah, tetapi tidak bisa memaafkan. Dalam tahap kedua ini, seorang hamba sudah bisa menahan marah, tetapi jugaa bisa memaafkan. Makin taqwa seseorang hamba, makin pemaaf dia. Allah berfirman dalam Al-Quran menyaakan bahwa “ orang yang pendendam tidak akan masuk syurga walaupun dia adalah orang yang benar”. Mari kita saling bermaaf-maafan. Bahkan sebelum orang minta maaf kita seharusnya sudah bisa memaafkan. Jangan pernah menganggap diri kita tidak pernah salah. Boleh jadi orang yang sebenarnya membuat kita marah, membuat kita mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman kita kepada Allah.

3.       Wallahu yuhibbul muhsiniin (hamba yang sudah bisa menahan marah, bisa memaafkan dan bisa melupakan bahkan mengajak membuka lembaran baru “let bygones be bygones”. Sampai Allah menyatakan rasa cintanya kepada hamba ini. Sebuah sifat mulia pasti akan melahirkan sifat kemuliaan berikutnya. Hamba ini memberi kesempatan kepada saudaranya untuk memperbaiki diri dan itulah tingkat keimanan yang paling tinggi. Seperti pohon manggga dilempar dengan batu, tetapi dibalas dengan buah itulah ahlak Nabi Muhammad Rosullullah SAW dan ahlak orang-orang yang beriman.
Mari kita berusaha dan berdoa supaya kita menjadi orang yang penyabar, rendah hati, penyayang dan ahirnya menjadi seorang muslim yang berahlak mulia.

(Source majelis Az-Zikra) 

Sabtu, 18 Mei 2013

The Secret of Wudhu





Berwudhu merupakan salah satu bersuci dalam Islam. Berwudhu adalah membasuh sebagian anggota tubuh untuk menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat atau ibadah yang lain.
Sebelum sholat, pastinya kita akan berwudhu dahulu, karena itu merupakan syarat sah sholat.
Namun tahukah kita keutamaan apabila kita bisa menjaga wudhu kita?
Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang hamba berwudhu saat berkumur, maka akan keluar dosa-dosa (kecil) dari mulutnya. Apabila menghirup & menghembuskan angin dari hidungnya, keluarlah dosa-dosa (kecil) dari hidungnya. Apabila membasuh wajah, keluarlah dosa-dosa (kecil) dari wajahnya hingga keluar dari kelopak matanya. Apabila membasuh kedua tangan, keluarlah dosa-dosa (kecil) dari kedua tangannya hingga dari kukunya. Apabila mengusap kepalanya, maka keluarlah dossa-dosa (kecil) dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Dan apabila membasuh kedua kaki, keluarlah dosa-dosa (kecil) dari kakinya hingga dari kukunya..." (HR. Malik, An-Nasai, Ibnu Majah, & Hakim).
Dalam Hadist juga disebutkan “Sungguh umatku kelak akan datang pada hari kiamat dalam keadaan (muka dankedua tangannya) kemilau bercahaya karena bekas wudhu. Karenanya, barangsiapa dari kalian yang mampu memperbanyak dan menjaga kemilau cahayanya, hendaklah dia melakukannya (dengan memperlebar basuhan wudhunya)” .(HR. Bukhari Muslim)
Dari hadist diatas dapat kita tarik kesimpulan betapa besarnya keutamaan wudhu bagi kita. Pertama, dengan berwudhu kita telah membersihkan diri, sebagai syarat beribadah. Allah berfirman ; “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan ke 2 mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6). Kedua, dengan berwudhu kita akan selalu dijaga oleh malikat Allah. Dalam Hadist Rosullullah bersabda "Barangsiapa tidur di malam hari dalam keadaan suci (berwudhu) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap' Ya Allah ampunilah hambaMu si fulan, karena ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci , "(HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar ra). Ketiga, dengan berwudhu kita telah menjaga badan kita dari dosa-dosa kecil yang telah kita perbuat. Dan amsih banyak lagi keutamaan dalam berwudhu. Semoga kita semua bisa menjaga wudhu kita. Insyaallah.
Subhanallah
Sungguh besar rahmat Allah SWT.

Selasa, 30 April 2013

Things that make fortune come




1. People who are during their prayer humbly submissive
Actually praying is a holy activity. Because there will be a communication between creature and The Creator (Allah SWT). As a creature, prayer humbly submissive to Our Creator (Allah SWT) is a must. We are created to serve Our Creator (Allah SWT). Prayer humbly submissive here, means that we are weak in the presence of Allah SWT and we can’t do anything whether it is right or wrong without the help of Allah SWT (Laa haula walaa quwwata illa billah) because everything has been written down in Lawhil Mahfudz. So we have to prayer humbly submissive in the presence of Allah SWT in order to reach Allah’s ridho.

2. People who turn away from ill speech
A good Muslim has to maintain what they want to speak from the unnecessary things. A good Muslim prefers to silent if he or she doesn’t have anything important to be talked. But their silence is their pray. In their silence, they pray and mention The Name of Allah. Silence is gold, but talk a good thing is diamond.

3. People who are observant of zakah
Zakah is the third requirement to become a Muslim after sholat. Zakah means we share something that we have to each other. We can share our money or our help to each other. Zakah is a obligation for those who has more wealth than others. Although economically, zakah is decreasing our wealth, but actually zakah is increasing our wealth (rezeki). Because human wealth (rezeki) is not only abot money, but wealth (rezeki) can be a pleasure, enjoyment, serenity, solehah wife,  soleh children, sakinah family even khusnul khotimah (die in a well state) and the greatest wealth (rezeki) is Heaven.
4. People who guard their private parts
As a good Muslim, we have to keep our private parts. We have to keep away from the momentary pleasure world. Allah SWT promises that Allah SWT will also guard our private parts if we could guard against something that is not allowed in Islam.
5. People who attentive to their trusts and their promises
A good Muslims are those who can keep their promises. In Islam, promise is a debt. If we cannot fulfill our promise, it means that we cannot pay the debt. And in afterlife, Allah SWT will demand our debt or promise that we do not fulfill yet. So if we cannot fulfill our promise, we have to responsible to say sorry to someone that we gave promise. But actually “sorry” is not enough, if we cannot fulfill the promise we made, do not try to make a promise to anyone.
6. People who carefully maintain their prayers
Carefully maintain prayers means that we keep our prayers. In Arab Language it’s called istiqomah. Istiqomah here, we pray to Allah in continuous basis. Allah SWT love those who can maintain their prayers though in a little capacity than those who cannot maintain their prayers.

Muslim that can do and keep those things will inherit in Al Firdaus Heaven.

Source (Al- Qur'an Surah Al Mukminun 1-11)